Almarhum Bapa Dalam Kenangan

Tidak terasa waktu cepat berlalu, rasanya baru kemarin aku mengantar Alm. Bapak pergi ke pangkuanNya di RS. Borromeus, setelah selama 10 hari dirawat untuk berusaha melawan segala penyakit…tapi Allah Yang Maha kuasa lebih berkenan untuk mengambilnya. Sedih, terpukul semua rasa menjadi satu, tapi Allah lebih tahu apa yang terbaik, Allah, mengangkat semua penderitaan Alm dengan mengambilnya kembali kepangkuanNya.
Banyak kenangan yang terekam dalam memori ingatanku…Bapa…begitu kami memanggilnya, adalah sosok yang keras, tegas, disiplin, sederhana…tapi dibalik itu beliau adalah sosok yang penyayang keluarga. Beliau selalu memprioritaskan waktunya untuk keluarga. Beliau sering menasihati kami, anak2nya untuk jangan terlalu sering meninggalkan rumah untuk hal2 yang tidak perlu. Hal ini mungkin dikarenakan Bapa sedari kecil tidak mendapatkan kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya, Ibu beliau wafat sewaktu melahirkan beliau. Bapa tumbuh besar bersama ayah – ibu tiri dan saudara2 tirinya. Karena keprihatianan itu beliau terbiasa hidup mandiri dan bekerja keras untuk mencapai cita-citanya. Karena pengalaman itu pula mungkin bapa tidak suka bila melihat kami (anak-anaknya) bermalas2an, “hura-hura”, beliau mengingatkan kami untuk bertanggung jawab minimal untuk diri kami sendiri. Menghadapi prinsip Bapa itu, tidak jarang kami anak2nya suka beradu argumentasi dengan Bapak. Pada saat itu pun aku berfikir bahwa bapa terlalu kolot… masa bermain2 tidak boleh, harus belajar terus….Ternyata setelah aku dewasa dan menjadi seorang ibu sekarang, aku mengerti sekali apa maksud Bapa.., Beliau sangat khawatir dan sayang akan anak2nya, beliau tidak mau anak2nya terjerumus pada hal-hal yang tidak baik., beliau menginginkan kami dapat berhasil mencapai cita-cita kami.

Pada cucu-cucunya Bapak tidak lupa memperlihatkan kasih sayangnya, anak-anak ku sering berkata bahwa KIKI (begitu mereka memanggil kakeknya) baik dan sayang pada mereka. Bapa selalu menyediakan makanan2 kecil (snack) di dalam kamarnya, bila cucu2nya datang, Bapa selalu mengajak cucu2nya untuk menyerbu ke kamarnya, istilahnya saat itu : “Ayo..siapa yang mau belanja di kamar Kiki?, biasanya anak2 berlarian ke kamar Kikinya mengambil makanan kesukaannya. Bapa juga sering membagikan kertas gambar dan spidol untuk cucu2nya…”Ayo..latihan gambar, ini Kiki bagikan kertasnya.”,katanya.

Memang kondisi kesehatan Bapa, semakin menurun, terutama setelah Bapa pensiun, dimana kegiatannya mulai berkurang, Aku sering perhatikan badan Bapa yang semakin kurus dan wajahnya yang terlihat semakin tua, beliau pun tidak sesemangat dulu lagi, sehari2 beliau lebih banyak di dalam kamar kerjanya, menulis, atau kadang2 berkebun di halaman rumah kami. Kalau kami mengajaknya keluar rumah beliau tidak pernah mau, bila ada undangan pun beliau tidak pernah mau berlama-lama.

Beberapa bulan sebelum Bapa meninggal, aku pernah bermimpi sedang berada di sebuah tempat, di tempat itu semua orang berbaju putih dan melakukan sholat. Aku pun sholat seperti mereka, setelah sholat aku lihat ada Mama di sampingku, aku bertanya “ini dimana Mam?” Mama menjawab :” Ini di Masjidil Haram “ katanya. SUBHANALLAH aku bisa sampai disini..pikirku, kemudian aku melihat ke sekeliling..tampak di barisan belakang Bapa sedang duduk sambil berdzikir memegang tasbih, selesai sholat mama mengajakku pergi “Kita mau kemana mah?..tanyaku, “Kita pindah mesjid “ kata Mama, Lalu kami mengajak Bapa pergi, dalam mimpi itu Bapa tampaknya sedang sakit, beliau seperti kesulitan untuk berdiri dan berjalan,,akhirnya aku dan mama membimbing dan memapah Bapa untuk berjalan ke mesjid selanjutnya. Entah kenapa setelah mimpi itu aku seperti ada keyakinan bahwa umur Bapa tidak akan lama lagi..dan aku yakin bila ada apa2 dengan Bapa, pasti aku akan ada disampingnya, membimbingnya. Meskipun begitu aku tidak mau itu terjadi dan berusaha menepis keyakinan itu, terkadang keyakinan itu suka muncul di benakku, dan aku menghalaunya dengan ber istifghfar dan memohon doa kepada Allah.

Ternyata semua terjadi, tidak lama Bapa sakit dan akhirnya meninggal, aku dan kakakku, Teh Inna, yang ada di ruangan ICCU menemani Bapa pada saat2 terakhirnya. Sangat sedih bila mengingat peristiwa itu,. melepas kepergian Bapa di depan mata, aku mengantarnya dengan bermacam2 doa, dan bacaan Al Quran yang aku bisikan di telinga bapa. Tapi aku tahu ini semua adalah yang terbaik untuk bapa, saat satu persatu peralatan medis dicabut dari tubuhnya, badanku terasa ikut dingin,,”Bapa…Allah lebih sayang padamu..Insya Allah aku, kami akan menjaga amanatmu, dan insya Allah suatu saat nanti kita bisa berkumpul lagi di alam surga..INSYA ALLAH…YA RABB KABULKANLAH DOAKU..AMIN”

Saat ini aku sering terinspirasi apabila membaca hasil karya bapa, beberapa macam buku dari buku ilmiah, dan non ilmiah,,, aku ingin meneruskan cita-cita bapa menjadi penulis, tapi entah kenapa agak sulit mengrealisasikannya, aku sudah mencoba membuat bermacam-macam cerpen dan artikel, tapi belum pernah ada satupun yang berhasil selesai dengan sempurna. Insya Allah aku akan mencoba menyelesaikan niat ini. Anakku yang no 2 Adanthi,sepertinya mempunyai bakat menulis dan mengarang, aku akan salurkan bakatnya, mudah2an dia bisa menjadi penerus Kikinya menjadi penulis.
InsyaAllah…

“Bapa….saat ini kau sudah berbaring tenang di pusaramu, untaian doa untukmu tidak pernah putus kami panjatkan. Semoga Allah mengampuni dosa2mu, menerima semua amal ibadahmu dan memberikan padamu surga kubur yang indah. Bapa, kita tidak dapat lagi berjumpa denganmu di dunia ini, tapi kau akan merasa bahagia bila kami berbahagia dan akan turut sedih bila kami berduka…

Maka itu Yaa Allah… berilah kami petunjuk supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu dan selalu bertawakal kepadaMu, sehingga amal ibadah kami ini menjadi kebahagiaan Bapa kami di sana… “Robbi aujini an asykura, nimatakal ladzi an amta alaya wa ala walidaya wa an amala sholihin” YaaAllah anugerahkanlah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Kau anugerahan kepadaku dan KEDUA ORANG TUAKU dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Kau ridloi; dan masukanlah aku dengan rahmatmu ke dalam golongan hamba2 Mu yang sholeh.” Robbigfirli waliwalidaya warhamhuma kama robbayani shagirhaa ..Amiin…..

(Metha Amalia Unus)

Comments

Popular posts from this blog

Since He Was Gone