Flashback…

Sabtu, 26 Januari 2007

Pukul 08.00 Bapa sudah rapih seperti biasa, pamit untuk jalan-jalan ke tempat pengetikan komputer untuk mengetikan ulang karya tulisannya. Pukul 12.00 Bapa  mengeluh tidak enak perut, Bapa sudah mulai tidak berselera makan hari itu, walau sempat minta dibuatkan pepes tahu. Pukul 23.00, Bapa mengeluh diare, dan sudah beberapa kali buang air besar di kamar mandi. Kami membujuk Bapa untuk banyak minum dan minum oralit. Pukul 24.00, Mamah mendapati ada bercak darah merah, tipis, di celana dalam Bapa. Mamah memanggil aku, dan akhirnya kami membujuk Bapa untuk segera ke RS. Alhamdulillah Bapa bersedia. Aku, Mamah, Aa mengantar Bapa ke RS. Bapa masih sangat segar dan ceria malam itu, banyak bercerita seperti biasa.

Minggu, 27 Januari 2007

Pukul 00.30, kami tiba di UGD RS Borromeus. Suasana di UGD ramai karena saat itu bertepatkan dengan KLB demam berdarah. Bapa langsung diperiksa oleh dokter jaga, menurut dokter jaga, karena darah yang keluar darah segar, maka diagnosisnya adalah infeksi di saluran pencernaan bawah. Menurutnya, kondisi itu tidak mengkhawatirkan, namun mengingat usia Bapa yang sudah cukup lanjut, maka sebaiknya Bapa dirawat saja. Menurut hasil tes, kadar gula darah Bapa agak naik namun kondisi lainnya masih baik.
Syukurnya Bapa tidak berkeberatan untuk dirawat. Kami memilih Dr Rizal, SpD sebagai dokter internist yang akan merawat Bapa. Aku segera bergegas menuju bagian pendaftaran. Ternyata RS Borromeus sedang fully booked malam itu, syukurlah tersedia 1 kamar lagi saja, di ruang Carolus 5. Aku segera membooked kamar itu, memberesi segala tetek bengek administrasi pendaftaran. Setelah itu aku langsung telepon dan mengabarkan kondisi Bapa yang harus masuk RS pada Teh Inna dan Teh Metha.
Kondisi Mamah pada malam itu sebenernya tidak begitu baik, Mamah sedang flu berat. Oleh karenanya, sambil menunggu Bapa dijemput oleh suster-suster Carolus 5, Mamah aku periksakan juga di UGD. Ketika suster yang menjemput tiba, ternyata Mamah belum selesai diperiksa dokter. Karena itu, pukul 02.30, hanya aku yang mengantar Bapa ke lantai 5, sedangkan Mamah ditemani oleh Aa di UGD. Sepanjang jalan ke lantai 5, Bapa cerewet sekali dan terus mengajak bicara suster-suster yang mendorongnya. “Suster, saya dirawat di kamar berapa? Ini kan dekat dengan kantor saya, pasti nanti banyak murid-murid saya yang mau nengok.” Itu salah satu ucapannya malam itu. Tiba di ruang Carolus 5, sambil Bapa diberesi peralatan dan lain sebagainya oleh suster, aku pamit jemput Mamah dulu ke UGD. “Pa, Windy ke bawah dulu ya, nengok Mamah, siapa tau udah beres.” Kataku. “Iya, tapi ulah lila-lila.” Kata Bapa.
Aku bergegas kebawah, ya ternyata Mamah sudah beres diperiksa. Aku mengurus administrasi pengobatan Mamah sementara Mamah dan Aa langsung ke ruangan Bapa. Karena malam itu Mamah kurang sehat, maka diputuskan malam itu aku yang menginap menemani Bapa di RS, dan Mamah pulang ke rumah untuk istirahat, besok pagi Mamah ke RS lagi. Syukurnya menurut Aa Adi suamiku, malam itu, Keia, bayiku yang pada saat itu baru berumur 4 bulan tidak rewel dan tertidur pulas sehingga dia tidak berkeberatan menjaganya sendirian.
Sebelum tidur, Bapa terus mengajak ngobrol, apa saja diobrolkannya, hingga akhirnya beliau tertidur. Sisa malam itu aku lalui dengan tenang, Bapa tampak tenang dalam tidurnya. Sebelum tidur, aku pun tak lupa mengirim SMS kepada para kerabat, mengabari tentang kondisi Bapa.
Pukul 06.00 Bapa sudah bangun, Beliau minta dinyalakan televisi dan bertanya, jam berapa Mamah ke sini.Pukul 08.00 Mamah tiba di RS, aku pun bergegas pulang ke rumah. Pukul 13.00 aku kembali lagi ke RS, Bapa masih tampak segar dan masih bisa mengobrol biasa dengan kerabat-kerabat yang menjenguk. Saat itu, kami semua masih bisa berpikiran positif, meskipun memang hingga saat itu, dokter belum datang visit.
Pukul 16.00 Bapa mulai agak melantur dalam pembicaraannya. Berkali-kali  bilang “Bapa hayang turun ka ditu, sambil menunjuk sofa.” Kami terus membujuknya agar Bapa tetap di tempat tidur. Dan beliau juga bilang “Eta saha ibu-ibu kurudung bodas, ngado’a wae di beulah ditu” sambil menunjuk ke pojok kamar. Aku dan Mamah bingung, karena memang disana tidak ada siapa-siapa. Akhirnya aku bilang saja, “ya bagus atuh Pa, ada yang ngedoain Bapa biar cepat sembuh.” Bapa hanya manggut-manggut.
Semakin malam Bapa semakin melantur bicaranya, beliau mulai tidak bisa berkomunikasi dengan kerabat-kerabat yang menjenguk. Hingga akhirnya pukul 21.00, aku pamit pulang, Bapa masih tetap melantur. Yang menunggu Bapa adalah Mamah dan Aa.

Senin, 28 Januari 2007

Pukul 05.30, telepon di rumah berdering, dari Mamah. Sambil menangis, Mamah bilang: “Win, buru kadieu. Ieu kunaon Bapa jadi kieu. Cicing wae. Ayeuna dipasang alat ku suster.” Aku bergegas bersiap-siap berangkat ke RS, setelah sebelumnya menelepon Teh Inna dan Teh Metha untuk meminta mereka sesegera mungkin pulang ke Bandung menemui Bapa. Yaaa memang, saat itu perasaanku sudah mulai sangaaat tidak enak. Begitu aku tiba di RS, Astagfirullahaladzim, aku kaget bukan kepalang, melihat kondisi Bapa mengapa jadi seperti itu. Matanya masih bisa berkedip-kedip, tapi mulutnya seolah terkunci dan menjadi gagu, tidak bisa berbicara lagi. Tangan dan kakinya masih bisa bergerak. Dan ternyata, sampai saat itu, dokter belum juga datang visit!
Aku ikut membantu suster menyeka badan Bapa. Pada saat aku menahan tubuhnya, masih terasa tekanan dalam tubuhnya.
Pukul 10.00, barulah dokter Rizal datang visit. Alih-alih menjelaskan apa yang terjadi pada Bapa, kenapa bisa sampai merosot begitu kondisinya, kata-kata pertamanya justru: “Kenapa Pak Unus bisa sampai seperti ini.” Ya Allah, sungguh aku berusaha menahan diri untuk tetap berlaku sopan pada dokter tersebut, dan hanya bisa berkata “Justru saya yang harusnya bertanya Dok, mengapa Bapa saya bisa jadi seperti ini.” Dokternya tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya menginstruksikan beberapa hal kepada suster. Astaghfirullahaladzim.
Pukul 11.00 Teh Inna datang bersama Kang Ade. Bapa masih bisa berkomunikasi dengan mereka, meskipun tanpa kata-kata. Bapa dibimbing untuk menjalankan sholat Dzuhur oleh Kang Ade.
Semakin siang, angka RR dalam layar monitor pemantau kondisi Bapa, semakin sering menunjukkan angka nol, ternyata Bapa semakin sering mengalami gagal napas. Bapa pun sudah tidak bisa memasukkan makanan ke dalam mulutnya, seolah tubuhnya sudah menolak makanan dan minuman. Obat-obatan semakin banyak yang diberikan, kerabat-kerabat dan kolega-kolega pun semakin banyak yang menjenguk.
Pukul 21.00 aku pamit pulang kembali, kondisi Bapa masih seperti itu.

Selasa, 29 Januari 2007

Pukul 08.00 aku tiba di RS, ternyata saat itu, mata Bapa sudah mengatup dan tidak pernah terbuka lagi. Yaa, saat itu kondisi kesadaran Bapa semakin menurun, tidak bisa berbicara, tidak bisa menggerakan anggota tubuhnya dan tidak bisa lagi melihat. Tapi pendengarannya masih baik. Ketika aku kembali membantu suster menyeka tubuhnya, masih terasa sedikit tekanan tubuhnya, walaupun lemah. Bapa pun semakin sering mengalami gagal napas.
Sambil menunggu, aku berusaha menghubungi semua kerabat yang belum dapat terhubungi. Adik-adik Bapa, mantan murid-murid Bapa, dan juga kolega-kolega Bapa. Alhamdulillah, meskipun susah payah, aku berhasil menghubungi mereka semua. Yaa, aku hanya ingin, Bapa sempat bertemu dengan mereka yang mungkin sudah lama sudah tidak ditemuinya.
Pukul 10.00, Teh Metha dan A Didit tiba di RS. Mereka kaget bukan kepalang melihat kondisi Bapa, karena memang sudah tidak dapat berkomunikasi sama sekali. Hingga malam, kondisi Bapa tidak banyak berubah, masih seperti itu. Hingga ahirnya pukul 21.00 aku pamit pulang bersama Mamah, yang juga semakin menurun kondisinya. Teh Metha dan Aa yang menunggui Bapa di RS.

Rabu, 30 Januari 2007

Hari ini adalah hari yang paling menegangkan. Pukul 08.00 aku tiba kembali di RS, aku langsung membantu suster menyeka tubuh Bapa. Saat itu tubuh Bapa sudah terasa sangat lemaaah sekali, tidak terasa lagi tekanan dari tubuhnya. Ketika aku seorang diri menunggui Bapa, setiap 30 menit sekali sering terdengar bunyi-bunyian dari alat monitor Bapa. Aku penasaran itu bunyi apa, ternyata.. itu adalah bunyi alat pengukur tensi tubuh. Aku kaget sekali mendapati tensi tubuh Bapa hanya 70/55. Saat itu adalah pukul 09.55. Aku terus mencari data, dan ternyata dalam data di kertas yang mengantung, tercantum history bahwa tensi Bapa memang cenderung menurun sejak semalam. Aku langsung memanggil suster. Menurut dia, kita lihat lagi tensi yang selanjutnya, jika semakin turun, akan diberikan terapi tertentu. 30 menit yang menegangkan… begitu alatnya berbunyi.. Ya Allah, angka tensi menunjukkan angka 51/30.. rendah sekali..:( Dalam panik, aku segera memanggil suster dan mereka pun panik, bolak-balik sambil membawa alat suntik, obat, infusan dll dsb. Aku segera menghubungi Mamah dan Teh Metha agar segera kembali ke RS, aku segera menghubungi Teh Inna di Bogor, dan mengabarkan kondisi kemunduran ini kepada kerabat-kerabat lain via sms.
Dalam ketegangan, kami semua, kerabat-kolega berkumpul dan menunggu hasil ukur berikutnya.. Alhamdulillah tensi Bapa kembali naik, namun kondisi Bapa belum stabil, malah cenderung menurun. Gagal napas semakin sering, kesadaran sudah hilang sama sekali, dan tensi semakin turun naik. Hari itu semua keluarga sudah berkumpul di RS. Hingga malam hari, kami semua berkumpul dan mengaji. Kondisi Bapa sudah benar-benar tidak stabil, namun sayang sekali, dalam kondisi seperti itu, Dokter kembali tidak visit bahkan sulit dihubungi bahkan oleh pihak RS sekalipun. Dokter jaga yang memeriksa malah hanya berkata satu kalimat :” ya gimana ya, segera panggil aja deh seluruh keluarga, lebih baik segera berkumpul”. Astaghfirullahaladzim.. rasanya jika hanya untuk berkata seperti itu, tak perlulah sekolah dokter bertahun-tahun. Kami semua tetap bingung dan tidak mengerti mengapa kondisi Bapa bisa jadi seperti ini.
Mamah sudah tidak mampu berdiri, dipeluk dan dihibur oleh sahabat-sahabatnya. Seluruh keluarga tak putus mengaji, hingga akhirnya hasil pemeriksanaan Hb menunjukkan bahwa Hb Bapa drop sekali dan harus segera ditranfusi. Setengah mati berusaha mencari darah di PMI Kota Bandung yang pada saat itu sangat suliiiiit sekali karena bertepatan dengan KLB demam berdarah sehingga orang-orang memang berlomba-lomba mencari darah untuk keluarganya. Namun untunglah, dengan bantuan beberapa kenalan, akhirnya aku berhasil mendapatkan beberapa labu darah B+ untuk Bapa. Lega karena berhasil mendapatkan darah, namun sekaligus miris karena ternyata untuk mendapatkan labu darah pun yang sangat vital bagi kelangsungan hidup seseorang, tetap perlu KKN. Sewaktu di PMI, Teh Metha yang menunggu di RS menelepon, katanya suster-suster di Carolus sudah menyerah dan menyarankan Bapa agar segera dipindahkan ke ICCU. Yaa.. kami terima opsi itu, karena.. yaa apakah kami punya pilihan lain? Segera kami mengurus segala administrasi dan tetek bengek kepindahan dari Carolus ke ICCU.
Ternyata Ruang ICCU penuh sekali, dan sambil menunggu ruang ICCU, kondisi Bapa semakin memburuk, napasnya semakin hilang dan tersengal-sengal. Sungguh tak tega melihat kondisinya, kami terus melantunkan Asma Allah di telinganya, membisikan keikhlasan kami jika memang Bapa sudah tidak kuat lagi dan memohon maaf kepadanya. Teh Inna pun sudah menyampaikan keikhlasannya via telepon yang diperdengarkan di telinga Bapa. Namun memang, meskipun kondisinya sudah seperti itu, ternyata belum tiba waktu Bapa.
Akhirnya menjelang tengah malam, akhirnya ada juga kamar kosong di ICCU. Bapa segera dipindahkan kesana.

Kamis – Senin, 31 Januari – 5 Februari 2007

Hari-hari yang menegangkan di ICCU. Kami tidak dapat 24 jam menunggui Bapa, hanya boleh menunggu di ruang tunggu. Kerabat dan kolega semakin berduyun-duyun datang menjenguk, tak henti-hentinya. Kondisi Bapa yang sempat stabil kembali menurun terus setiap harinya. Dokter yang tadinya hanya satu orang internist saja, akhirnya bertambah menjadi 8 orang dokter spesialis dan sub spesialis: Dr. Rizal -ahli dalam, Dr. Nana - ahli paru, Dr. Rulli - ahli ginjal, Dr. Begawan - ahli pencernaan, Dr. Thamrin - ahli syaraf, Dr. Augusta - ahli diabetes, Dr. Iman – ahli darah dan juga Dr. Samino – ahli ICCU.
Berita buruk terus-menerus kami terima, mulai dari hasil rontgent yang menunjukkan paru-paru Bapa putih semua, ginjal yang sudah tidak berfungsi sehingga harus cuci darah, lambung dan pankreas yang terus menerus mengeluarkan darah, gula darah yang naik-turun tidak terkendali setiap waktu, kadang 300 berubah kembali menjadi 30 dalam waktu 1 jam.
Alat-alat yang semula hanya alat pantau saja, akhirnya bertambah terus setiap saat, hingga akhirnya ditanam pipa ditubuhnya untuk cuci darah dan juga ventilator. Infusan yang semula hanya 2 selang menjadi berpuluh-puluh selang menempel di tubuhnya. Obat-obatan mulai keluar obat-obatan tingkat tinggi yang sangat fantastis harganya. Semua kami berikan untuk Bapa, demi kesembuhan Bapa. Labu darah kembali dibutuhkan beberapa untuk transfusi Bapa.
Dari semua penurunan itu, dokter Thamrin, dokter syaraf kami menyatakan respon tubuh Bapa masih ada. Masih ada harapan.
Namun sungguh Ya Allah.. hingga saat ini kami tetap belum mengerti mengapa Bapa sebenernya. Hingga akhirnya diputuskan akan diadakan rapat keluarga dengan tim dokter pada esok hari.

Selasa, 6 Februari 2007

Pukul 10.00 rapat dengan tim dokter. Kami didampingi beberapa kerabat, menemui  tim dokter. Namun rapat selama 1 jam itu tidak dapat memuaskan rasa kepenasaranan kami, selain informasi bahwa: Bapa menderita Multiple Organ Failure (meskipun sampai saat ini tidak jelas juga apa penyebabnya), kans sembuh sangat kecil dan ventilator yang dipasang di tubuhnya hanya bisa bertahan sampai 2 hari lagi, harus segera diganti dengan alat baru dengan cara membolongi tenggorokannya.
Pukul 13.00 muncul berita mengagetkan, bahwa Bapa kembali membutuhkan 4 labu darah, padahal sebelumnya baru semalam yg lalu Bapa sudah transfusi 2 labu darah.
Pukul 16.00, sewaktu Dokter Thamrin visit, akhirnya beliau menyampaikan berita itu… Bapa sudah tidak ada respon tubuhnya, sebaiknya segera beritahu Mamah, supaya Mamah segera kesini. Dokter Thamrin adalah dokter langganan Mamah yang selama ini selalu positif dan optimis Bapa akan sembuh, jika beliau saja sudah mengatakan demikian, Ya Allah, apakah akan segera tiba waktunya?
Dalam bingung kami berusaha mendatangkan Mamah ke RS tanpa membuat Mamah merasa panik dan tegang, karena kami sangat mengkhawatirkan kondisi Mamah dengan hipertensi dan riwayat strokenya. Alhamdulillah sahabat-sahabat Mamah begitu kooperatif dan sangat membantu, mengajak dan menemani Mamah ke RS.

Rabu, 7 Februari 2007

Pukul 00.00, Bapa ditunggui oleh Teh Inna, Teh Metha dan A Didit. Suasana dirumah tampak sepi.. keueung. Ua Engkom memutuskan menginap di rumah menemani Mamah, mungkin Ua juga sudah tidak enak hati dan perasaan.
Pukul 03.00 A Didit meneleponku, mengabarkan kondisi Bapa yang mana detak jantungnya semakin menurun. Ya Allah, aku bingung, ingiiin sekali segera pergi ke RS menemani Bapa, tapi bingung juga takut Mamah panik. Aku berpesan untuk tetap selalu mengabari aku. Mungkin sambil menyusui Keia, tak terasa aku yang sedari tadi tidak bisa tidur, tiba-tiba tertidur.
Pukul 05.00 Setengah sadar aku mendengar jelas suara Bapa membangunkanku..”Win.. Windy..”. Aku kaget, dan tiba-tiba melihat handphoneku berkedip-kedip, panggilan dari A Didit. Katanya, detak jantung Bapa hanya 19. Aku segera bergegas bersiap-siap ke RS, pelan-pelan memberitahu Ua.. dan juga memberitahu Mamah, agar Mamah segera ke RS juga. Ua berhasil membujuk Mamah tanpa curiga, agar Mamah bersedia ke RS. Sambil menunggu.. tiba-tiba telepon berdering lagi.. pukul 05.50…”Win, Bapa sudah ga ada.” Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Ya Allah, ampuni dosa Bapa, terimalah segala amal ibadahnya, tempatkan dia di tempat terindah disisiMu…
Aku berpelukan dengan Ua Engkom. Dan kami memutuskan untuk tidak dahulu memberitahu Mamah, supaya Mamah tidak shock karena khawatir berpengaruh pada kondisi kesehatannya. Pelan-pelan aku menelepon kerabat-kerabat, para tetangga di Bukit Dago, kolega Bapa di kantor, dan juga yayasan Sekar Kenanga.
Sambil berusaha menutupi rasa sedih di depan Mamah, kami berangkat ke RS. Begitu tiba, Mamah langsung disambut oleh Teteh2.. mereka memberitahu Mamah dan langsung pecah semua isak tangis kami…
Alhamdulillah dalam mengurus pemakaman Bapa, semua terasa mudah dan lancar. Bantuan moril materil tak putus-putusnya mengalir. Bapa kami makamkan di Pemakaman Keluarga ITB di CIbarunai, Sarijadi, Bandung. Rombongan pelayat baik yang melayat ke rumah san mengantar ke makam sangat banyak. Iring-iringan kendaraan sangat panjang, rangkaian bunga dukacita baik di rumah maupun di pemakaman sangat banyak. Bahkan berita kematian Bapa menjadi berita di halaman pertama Harian Pikiran Rakyat.  Ya Allah, mungkin ini buktinya bahwa banyak orang yang cinta dan perhatian pada Bapa.

Selamat jalan Bapa… Doa kami tak putus selalu menyertaimu.

-Windy Widyaningrum Unus-

Comments

Popular posts from this blog

Since He Was Gone