In Memoriam H. Unus Suriawiria 13/09/1935 – 07/02/2007
Bapa, demikian kami semua biasa
memanggilnya. Bapa lahir di Bandung, 13 September 1935. Menuntut ilmu di FIPIA
UI (saat ini dikenal menjadi FMIPA ITB), dan melanjutkan kuliah di beberapa
negara, diantaranya University New South Wales (Sydney, Australia 1970), Svérige Lantbruke
Universitet
(Uppsala,
Swédia, 1973), Ohio State Univerity (Amerika, 1987) dan Kyoto Intitute of Technology (Jepang, 1989).
Mendalami bidang
Mikrobiologi, Agrobisnis, Agroindustri, Bioteknologi dan Manajemen Teknologi,
Bapa bekerja sebagai dosen di almaternya, ITB, sejak lulus S1 hingga menjelang
akhir hayatnya. Mengajar sebagai dosen tetap di jurusan Biologi ITB dan juga di
jurusan MBA ITB. Selain itu Bapa juga aktif mengajar di beberapa perguruan
tinggi lainnya maupun menjadi staf ahli yang turut andil dalam membesarkan
beberapa perusahaan ternama di Indonesia, seperti AQUA dan CNI.
Pada 14 Juli 1963,
Bapa menikah dengan Mamah, Hj. Mien Karminah Unus, dan dikaruniai 3 orang putri
dan 1 orang putra, yang Alhamdulillah keseluruhannya telah berkeluarga. Bapa
merupakan sosok ayah yang keras dalam mendidik, sangat mementingkan
norma-norma, kejujuran dan pendidikan dalam ajarannya, namun selalu memiliki
cara sendiri untuk memanjakan dan memperhatikan keluarganya. Bapa tidak
segan-segan turun ke dapur sendiri, tidak segan-segan keluar masuk toko atau
bahkan pasar tradisional untuk
membelikan oleh-oleh untuk keluarganya. Jika kebetulan bertugas keluar kota
atau luar negeri, koper Bapa pasti selalu penuh oleh-oleh untuk semua keluarga,
kerabat dan bahkan untuk seluruh asisten di rumah. Hingga kini, Bapa telah
dikaruniai 7 orang cucu, yang sangat dicintainya. Hingga akhir hayatnya, Bapa
selalu berusaha memanjakan cucu-cucunya, dari sekedar mengajak jalan-jalan dan
makan di luar, membelikan jajanan bahkan hingga membuat “Warung Kiki” di kamar
pribadinya, membagi-bagikan kertas dan spidol supaya cucu-cucunya senang
menulis dan menggambar, hingga membelikan apa saja yang diinginkan oleh
cucunya. Bapa memang sosok yang sangat penyayang dan penyabar terhadap
cucu-cucunya.
Biarpun keras, Bapa
tetap dikenal sebagai pribadi yang ramah dan senang menyapa dan mengajak ngobrol
pada siapapun orang-orang yang ditemuinya, tidak memandang siapa dan dari
strata mana orang tersebut berasal. Bapa pun dikenal sebagai orang yang senang
membagi-bagikan dan memberikan apapun yang dia miliki untuk orang lain, biarpun
itu hanya sekedar sebungkus Energen Coklat favoritnya, sekantong korma, hingga
barang-barang yang dapat dikategorikan benda berharga.
Bapa senang sekali
menulis, baik tulisan-tulisan ilmiah yang sesuai dengan bidang ilmunya hingga
tulisan-tulisan ringan seperti artikel-artikel singkat atau bahkan fiksi. Berpuluh-puluh
buku, beratus-ratus artikel telah Bapa hasilkan. Menurut orang-orang yang
pernah membaca tulisan Beliau, Bapa identik sekali dengan Jamur, Shitake,
Lingzhi, Lalab, Chlorella, Antanan, Mikrobiologi, Tanam-tanaman, hingga Ibadah
Haji. Sehari-hari, sepulang bekerja, Bapa lebih banyak berkutat di kamar kerja
pribadinya, menulis dengan menggunakan mesin tiknya yang khas sekali suaranya,
atau bercocok taman di kebun pribadinya.
Selain itu, Bapa juga
senang sekali fotografi, baik untuk menunjang tulisannya juga untuk sekedar
hobi. Jika sedang bepergian, Bapa tidak segan-segan untuk berhenti dan turun
dari mobil, untuk memotret obyek yang Beliau anggap menarik. Dalam satu bulan
bisa berpuluh-puluh rol film yang Beliau habiskan. DInding rumah keluarga kami
di Bukit Dago Utara dipenuhi oleh foto-foto hasil karyanya. Obyek foto favoritnya
selain tanaman adalah cucu-cucunya, berbagai pose, berbagai gaya, beragam
kegiatan cucu-cucunya selalu Bapa tangkap lewat lensa kameranya.
Bapa merupakan sosok yang membanggakan, setidaknya menurut kami, keluarganya. Bapa sudah beberapa
kali diundang menemui beberapa Presiden RI. Profilnya pun sudah beberapa kali memenuhi surat kabat,
tabloid dan majalah dan bahkan di televisi, diantaranya Koran Kompas, Pikiran
Rakyat, Tabloid Nova, Majalah Mangle, Ensiklopedia Sunda, Majalah Online
Cupumanik dan beberapa tayangan di RCTI (Rumah Unik), ANTEVE, Bandung TV, Radio
BBC London dan lain-lain.
Itulah Bapa, yang selalu kami banggakan dan rindukan, yang selalu kami
cintai. Meskipun Bapa telah berpulang ke hadiratNya, namun Bapa akan selalu
hidup di hati kami. We love you full, Bapa.
Bandung, 02 November 2009
Kami yang selalu mencintainya,
Comments
Post a Comment