Keia will never ever meet her Grandpas.. never..:(
Takdir, ya,
itulah ketentuan Allah yang harus kita hadapi dan terima dengan ikhlas dan
lapang dada.
Rasanya belum
kering air mata dan kesedihan, ditinggal Alm. Bapa Unus, 7 Februari 2007,
kemarin 23 Juni 2007, kami harus kehilangan pula Bapa Udi... Keduanya meninggal
karena tidak kuasa lagi melawan penyakit yang dideritanya... Tapi keduanya
meninggal dengan kenangan, bahwa mereka sangat dicintai oleh istri, anak-anak
dan juga cucu-cucunya.
Rasa lelah dan
juga materil yang harus kami keluarkan dalam merawat dan mengurus mereka selama
sakit hingga dikebumikan, TIDAK AKAN PERNAH CUKUP untuk menggantikan apa yang
telah mereka lakukan dan korbankan untuk kami, putra-putri mereka. Didikan,
cerewetan, dan nasihat yang mereka berikan akan selalu menjadi bekal bagi kami
dalam menjalankan hidup. Itulah amanat mereka untuk kami. Kami akan selalu
menjaganya... We Promise You.. both of you...:)
Keia sayang,
meskipun kamu tidak akan pernah bertemu Kiki dan Aki, namun kamu akan tahu,
betapa hebatnya Mereka...
Keia sayang...
Kamu harus tahu,
betapa Kiki Unus sayang sama kamu. Kiki nungguin kamu di RS ketika Mama mau
melahirkan kamu. Kiki yang panik, waktu kamu harus dirawat karena kuning, (yang
Alhamdulillahnya tidak jadi). Kiki yang bangga sama kamu dan selalu bilang,
”ieu budak teh pipintereun, mun geus gede bakal jadi jelema”. Kiki yang selalu menunggui kamu, sewaktu kamu tidur. Kiki
yang heboh nyiapin lampu tidur, biar kamu tidak kedinginan katanya. Kiki yang
dengan heboh, menyusun list siapa yg harus dibagi2in gule kambing waktu kamu
aqiqah. Kiki yang heboh mau beli kambing lagi untuk syukuran kelahiran kamu.
Meskipun cuma 4 bulan saja kamu bertemu dengannya, tapi kamu harus tahu, Kiki
sangat sayaaaang sama kamu...
Keia sayang...
Kamu juga harus
tahu, betapa Aki Udi sayang padamu. Waktu Mama berjuang di RS selama 2 malam,
mau melahirkan kamu, dan kamu belum mau lahir juga, dikala Ayah sudah berpikir,
Mama harus Operasi Sectio, tiba-tiba Ayah teringat untuk menelepon Aki Udi,
meminta restunya. Begitu restu
Aki berikan, Mama langsung mules dan tak lama kemudian, kamu lahir sayang. Dan
kamu harus tahu, meskipun pada saat itu sebenernya Aki sudah sakit, namun Aki
tetap berusaha mengengok kamu ke rumah. Mama masih inget kata-kata Aki pada
saat itu, ”Orok teh mani Geulis”. Ya, kata Aki, kamu cantik sayaang. Itu yang
selalu diucapkannya kalau Ayah nengok Aki. Bahkan pada hari-hari terahirnya,
Aki yang tergolek lemah, tersenyum dan menggapai wajahmu, ketika Mama dan Ayah
ajak kamu negok Aki. Meskipun kamu lahir pada saat kita semua baru mengetahui
penyakit Aki, meskipun cuman 9 bulan kamu bertemu dengannya, tapi kamu harus
tahu, Aki sayaang sama kamu.
Keia sayang...
Kamu harus tahu,
bahwa, ketika Kiki sakit di RS, banyaaaaaakkkk sekali orang yang datang
menjenguk. Mama sampai bingung mendistribusikan kiriman orang-orang yang
menjenguk saking banyaknya, karena takut mubazir. Kamu harus tahu ketika
akhirnya Kiki meninggal, banyaaaaakkk sekali orang yang melayat dan mengantar
ke kuburnya. Konvoi mobil, sampai bis, panjang sekali sayang... Karangan bunga
bertebaran sepanjang jalan, baik di rumah maupun di makam. Bantuan moril dan
material, tak henti-hentinya sayang, hingga 100 harinya, bahkan sampai kini.
Kamu harus tahu, berita kematian Kiki terpampang di koran PR halaman 1, menyatakan bahwa beliau orang hebat.
Kamu pun harus
tahu, waktu Aki meninggal, yang melayat banyaaakk sekali. Pejabat-pejabat Jawa
Barat dan Kota Bandung datang melayat dan mengirim rangkaian bunga.
Iring-iringan mobil yang mengantar Aki ke pemakanan Karang Anyar, panjang
sayaang..
Kamu harus tahu,
Aki orang hebat. Berkat didikannyalah banyak orang bisa menjadi pejabat saat
ini.
Ya sayang...
tugas kamilah, orangtuanya yang harus menghidupkan kenangan buat Keia... Bahwa dia punya dua orang kakek yang
sama-sama hebat dan sangat menyayanginya...
-Windy Widyaningrum Unus-
Comments
Post a Comment